A song with it's own memory :)
I Believe LyricsSMS ILMU : Penyembuh Malas!
Oke, dalam konteks ini saya tidak akan membicarakan mengenai pengertian ilmu, tujuan dan manfaat keilmuan, ataupun ilmu-ilmu eksak. Hanya saja saya akan berbagi beberapa hal penting mengenai ilmu. Hal penting yang baru di sadari ketika saya melupakan bagian-bagian kecil dalam mencapai sebuah ilmu, hal penting yang baru saya dapatkan setelah saya mengalami krisis menimba ilmu (baca: mengalami kemalasan akut untuk pergi kuliah).Subhanallah, hebatnya krisis tersebut berakhir setelah saya mendapatkan, membaca ulang dan meresapi pesan-pesan pendek (sms) dari teman-teman saya. Berikut ini adalah beberapa sms yang saya terima mengenai Ilmu :
Labirin!
Berliuk satu arah, Tersesat.
Memberikan cabang jalan berakar, Bingung.
Menjarah waktuku, Berkarat.
Menawarakan setiap mahligai, Pengharapan.
Yang tersesat adalah yang tak memiliki kompas emas.
Sebuah pembiasan kebenaran yang lama disembunyikan.
Labirinku mendulang bunga-bunga yang nantinya hilang
Labirinku menyembunyikan kepalsuan setiap barang
Menjulurkan setiap kawanan ilalang yang tertata ulang.
Untuk membatas tawa ibu-ayah dengan dindingnya.
Labirin membuatku tersesat, membuatku hilang!
Labirinku dalam kehidupan dan ceritanya.
Memberikan cabang jalan berakar, Bingung.
Menjarah waktuku, Berkarat.
Menawarakan setiap mahligai, Pengharapan.
Yang tersesat adalah yang tak memiliki kompas emas.
Sebuah pembiasan kebenaran yang lama disembunyikan.
Labirinku mendulang bunga-bunga yang nantinya hilang
Labirinku menyembunyikan kepalsuan setiap barang
Menjulurkan setiap kawanan ilalang yang tertata ulang.
Untuk membatas tawa ibu-ayah dengan dindingnya.
Labirin membuatku tersesat, membuatku hilang!
Labirinku dalam kehidupan dan ceritanya.
Hidup bersama Handpohone
Sebenarnya akhir-akhir ini saya terjangkit virus handphone addict, selain karena sibuk di telpon dan di sms oleh orang penting saya pun hampir melakukan kegiatan dibantu dengan aplikasi handphone, mulai dari e-dictionary, kalkulator, sampai alarm. Meskipun banyak membantu, terkadang handphone ini memunculkan kebiasaan aneh yang kurang bermanfaat.
The Voices
I mistaken the buzzing sound in my bosom,
Make me chaotic for every symphony in this life.
And the voices hypothesis I suspect make me laugh.
When there was to be, when disappear, even when just illusion of rhythm
Hurt, he made for familiar voices
stertorous, he made for hearing the voices
But this hurt, this stertorous is an enchant rhyme
From a knot my sheepishly smile inside the tinge
Torture me as if an ache..?
Ache? Ache.....Ache! the taboo word for me.
My logic still bear up on the voices, inside my headache,
Waiting for what will happen the next,
Just because the voices..
(Fyuuuuuhhhh.... *kipas-kipas* My First non-grammatical and non-structural poetry.. -__-, Actually I write the poetry in Bahasa version, but my friend ask me to translate it... so... thus the result... )
Negeriku bukan Putih Abu
Televisiku tak lagi berwarna, dihiasi media pahit. Hitam.
Nyaris saja aku melupakan medali-medali emas negeriku
Karena yang kulihat adalah kasus berkepenjangan yang sulam menyulam.
Negeriku seolah menjadi tontonan layar Putih Abu
Lagu bangsa tak lagi diharmonisasi,
Para pujangga tak lagi terdengar berpuisi,
Tak ada lagi pejuang pahlawan bangsa ini,
Semua, Hampir semua berjuang untuk diri!!
Aku berharap! Akulah yang buta warna...
Negeriku tidak Putih Abu, Negeriku tidak baku! Negeriku tidak kaku!
Negeriku adalah warna pelangi yang berpadu...
Pelangi-pelangi yang abadi, mengangkasa!
Coba lihat saja warna merah, keberanian para tentara menjaga harga diri bangsa,
Lihat juga warna kuning, kesejahteraan para petani yang ikhlas menuai padinya,
Coba Perhatikan warna biru, pemerintah sabar yang adil mendengarkan kedamaian,
Lalu perhatikan pula hijau, rakyat yang tenang dan cerdik menyampaikan keluhan,
Kenapa tak soroti mereka saja??
Daripada mempertontonkan para pelacur negara..
Semua Orang Perlu tahu dan Harus Tahu!
Negeriku bukan layar tua Putih Abu, Negeriku itu Pelangiku!
Nyaris saja aku melupakan medali-medali emas negeriku
Karena yang kulihat adalah kasus berkepenjangan yang sulam menyulam.
Negeriku seolah menjadi tontonan layar Putih Abu
Lagu bangsa tak lagi diharmonisasi,
Para pujangga tak lagi terdengar berpuisi,
Tak ada lagi pejuang pahlawan bangsa ini,
Semua, Hampir semua berjuang untuk diri!!
Aku berharap! Akulah yang buta warna...
Negeriku tidak Putih Abu, Negeriku tidak baku! Negeriku tidak kaku!
Negeriku adalah warna pelangi yang berpadu...
Pelangi-pelangi yang abadi, mengangkasa!
Coba lihat saja warna merah, keberanian para tentara menjaga harga diri bangsa,
Lihat juga warna kuning, kesejahteraan para petani yang ikhlas menuai padinya,
Coba Perhatikan warna biru, pemerintah sabar yang adil mendengarkan kedamaian,
Lalu perhatikan pula hijau, rakyat yang tenang dan cerdik menyampaikan keluhan,
Kenapa tak soroti mereka saja??
Daripada mempertontonkan para pelacur negara..
Semua Orang Perlu tahu dan Harus Tahu!
Negeriku bukan layar tua Putih Abu, Negeriku itu Pelangiku!
Langganan:
Postingan (Atom)



Follow Us
Were this world an endless plain, and by sailing eastward we could for ever reach new distances