Tampilkan postingan dengan label Teristimewa. Tampilkan semua postingan

Keping 69



//Bertemu Riska//

Siang itu, aku kembali bertandang kerumah Hasa. Ini sudah kesekian puluh kalinya aku mengunjungi rumah Hasa, dengan dalih “rindu” aku mulai terbiasa mengubur dalam-dalam rasa canggungku bertemu dengan Ibu dan kakak-kakaknya Hasa. Tentu saja, tanpa diayal, ini juga adalah strategi cerdas Hasa yang mendekatkanku dengan keluarganya.

Kepingan 70

//Senyawa Polar//
Seperti halnya pada senyawa polar, dua kutub berbeda pun bahkan dapat membentuk sebuah ikatan.

Saat ini, aku dan Hasa sedang menarik diri masing masing pada kutub yang berbeda. Hasa terdiam bangku paling pojok di sebelah selatan taman, sedangkan aku berdiri terdiam dan bersandar di sebuah lampu yang diposisikan di paling utara dari taman ini. Sudah hampir lima menit kami terdiam berjauhan dan saling memunggungi dan membuang tatapan. Hawa udara taman yang hangat dan cerah bagi pengunjung lainnya, justru terasa sedingin kutub utara bagi kami. Padahal beberapa puluh menit sebelumnya, kami sedang riang-riangnya menebar aroma dimabuk cinta.

Kepingan 71


//Liburan//

Lagi – lagi aku ditarik kedalam atmosfer kehidupannya. Hasa mengajakku untuk menghadiri pernikahan Rasha, sahabatnya di daerah pantai selatan. “Sekalian liburan ya” ujarnya semangat.

Kepingan 72


//Lagu//

Siang ini, aku, Zahra dan Gamtina sedang khidmat menelaah menu makanan di sebuah café ramen  yang baru saja buka. Tempat ini cukup sepi untuk sebuah café  yang sering di rekomendasikan bayak orang.

Kepingan 73


 //Cerita Hasa 3 : Lainnya//

Mereka juga punya tempat di bilik ingatan Hasa, bahkan satu – dua dari mereka berkontribusi langsung dalam menjadikan seorang Hasa yang seperti saat ini. Dalam pikiranku, aku menyimpan nama-nama dan cerita mereka, setidaknya sebagai referensi agar aku lebih paham cerminan diriku sendiri untuk Hasa.

Kepingan 74


 //Cerita Hasa 2 : Riska//

Lain Laila, lain pula dengan Riska. Ada banyak jajaran nama yang Hasa punya di dalam kubikal memorinya. Setiap nama itu memiliki ruangan cerita masing-masing di kepala Hasa, yang menjadi pembeda adalah besar atau kecilnya ruangan yang mereka punya.

Kepingan 75

//Cerita Hasa 1 : Laila//
Aku memperhatikan binar matanya yang tersisa dari serpihan serpihan kenangan yang ia kumpulkan. Dia menceritakan potongan kehidupannya yang amat berkesan. Gadis itu beruntung, sebab dia punya kubikal ekslusif di noktah ingatan Hasa.

Kepingan 76


//Panglima Hasa//
“Kak, sudah berapa lama  pacaran dengan Hasa?”

Kepingan 77


//Ruang Bicara di Kafetaria//

Sekalipun, aku tak pernah berfikir bahwa aku akan berada dalam lingkaran kehidupan ini. Hasa benar-benar menyeretku ke wilayah dunia yang benar-benar baru untukku.

Kepingan 78


//Hari Raya 2//

Aku tiba di alun alun kota sekitar pukul sembilan malam. Melalui segala macam kemacetan dan keriuhan di bus yang sudah mengurangi banyak mood cerahku di pagi Hari.

Kepingan 79


//Hari Raya//

Perayaan, tidak selalu harus identik dengan umbul umbul dan keramaian. Adakalanya kita hanya perlu membubuhi sebuah kesan yang tak terlupakan. Begitulah keinginanku.

Kepingan 80

//Nyata//

Choosing between love and life is like choosing between fantasy and reality.

Kepingan 81

//Diari Aleya 2//
Rasa panas itu menjalar dari mata ke wajah hingga ke dada. Pemandangan yang baru saja kutemukan menggelembungkan buih buih kekesalan yang akhirnya tumpah ruah menjadi air mata tanpa suara. Saat itu aku yang sedang berada di ruang tamu keluargaku, aku langsung beralih posisi : mengunci diri di kamar. Aku menarik nafas. Seharusnya aku tak se emosional ini.

Kepingan 82


//Cinta lainnya : Ibu bagian 4//
Pagi itu, lagi-lagi Hasa mengirimiku kejutan listrik yang memicu jantungku. Sebuah pesan perintah dari Hasa masuk ke inbox ku.

Kepingan 83

//Cinta lainnya : Ibu bagian 3//

Malam ini, keluarga Hasa berkumpul di ruang tengah. Ada Ibu Hasa, ada Kak Redi dan Istrinya Kak Renren, kak Kiki dan istrinya kak Nia juga anak-anaknya Jafi dan Rafi. Suasana yang ramai menentramkan.

Kepingan 84

//Cinta Lainnya : Ibu Bagian 2//

Kali ini, aku dan Hasa berada di perjalanan menuju rumahnya lagi. Ini kunjunganku yang kedua dalam sebulan terakhir, dan aku masih saja gugup. Sebab kali ini aku akan menginap dirumah Hasa, dan tidur bersama Ibunya. Hasa selalu punya cara untuk membuat jantungku bekerja lebih ekstra dari biasanya.

Kepingan 85


//Cinta Lainnya : Ibu Bagian 1//

Bagiku, sosok Ibu adalah sosok paling powerfull yang berada dalam tatanan ‘kerajaan rumah tangga.’ Sosok yang bahkan hawa keberadaannya begitu meresap ke akar kehidupan.

Kepingan 86


//TANGANNYA//
Waktu melesat dengan lambat sekaligus cepat. Dua bulan sudah terlewati sejak Deklarasi Darso soal Takdir Tuhan. Dua bulan itu terasa lama karena banyak yang terjadi. Sudah tak terhitung seberapa kali Darso menganggu waktu liburku dengan pesan pesan singkatnya. Tak terhitung pula perdebatanku dengan Hasa karenanya. Tapi pada akhirnya dua bulan itu sudah berlalu.

Kepingan 87


//ADA//

Alarm ponselku berbunyi amat nyaring dan aku bergegas menekan tombol sonooze. Lalu kembali melipat diri di dalam selimut yang hangat. Pagi yang tenang dan sunyi membuatku betah berada di alam mimpi. Tak ada suara cerewet yang selalu ribut soal bangun di pagi hari. Aku terlelap lagi.

Kepingan 88

//PINDAH//

Darso masih belum menyerah. Aku dipanggil ke kantornya hanya untuk (lagi-lagi) membahas takdir Tuhan. Sesekali, di sela-sela bicaranya soal penyerahan diri pada Tuhan, dia tertawa garing menyebalkan. Dia mencekokiku dengan kalimat-kalimat manipulatif.