Mirror-Mirror III : Cerita Pagi Tadi

“mirror..mirror the miracle of ours..”
Satu lagi koneksi virtual tersambung. Tanpa kabel, tanpa internet.
Kali ini mika berbaju  biru gelap, duduk manis di meja belajar sambil menanti serpihan-serpihan bayangan yang membentuk serupa dirinya. Ya. Serupa tapi tak sama.

Mirror-Mirror II : Cerita Malam ini

“Mirrorr...Mirror..the.. miracle.. of our”  gumam pelan seorang gadis, suaranya benar-benar melenguh lemah di  antara kekosongan sebuah kamar kecil.
Di hadapannya, dalam sebuah cermin mulai muncul sesosok bayangan dirinya. Sekali lagi kukatakan,  Bayangan gadis yang sama persis, namun berbeda.
Malam ini, koneksi percakapan virtual kembali terjadi. Dan sekali lagi ku tegaskan, tanpa koneksi internet, tanpa kabel.

Mirror-Mirror : Cerita Kemarin Sore

Matahari mulai terbenam. Seorang gadis berbaju merah menyala terduduk di meja belajar sambil memandangi sebuah cermin sihir.Kenapa cermin sihir? Yah, karena di matamu, kau tidak akan melihat apapun. Tapi melalui mata gadis itu, teori relativitas cahaya enstein terkalahkan oleh teori imajinasi mimpi dari Walt disney.Bingung? Oke, aku deskripsikan ulang dengan situasi yang lebih simple

Jendela bis dan Suara II ( tentang kenangan)

         
Magic4Walls.com
Sekali lagi, aku berada dalam perjalanan pada lintasan kecepatan waktu. Dan Sekali lagi, perjalan ini pun tentang tugas, hanya saja (mungkin) nantinya akan lebih menjadi sebuah liburan, yah.. liburan dari sebuah kenangan. Jika perjalanan pertama adalah bali, maka perjalanan kedua adalah yogyakarta. Sebuah Rute perjalanan mundur dari arah jawa barat, tepatnya Bandung. Sama halnya dengan perjalanan mundur ini, maka jendela bis pun menceritakanku sebuah alur mundur. 

A.F.K.A.R

Someone-I-know-who.

Pajangan Sepasang Merpati

Aku mendecih melihat sepasang merpati kaku di mejaku. Mereka menggagu konsentrasiku saja! Aku mulai menyerah, Ku biarkan sketsa-sketsa lukisanku tercecer di meja belajarku, lalu  menatap kedua merpati sombong itu. Apa mau kalian!?
Lihat! kedua merpati itu begitu sombong dengan kemesraan mereka, saling menatap satu sama lain diatas batang putih berbunga. Sang jantan, dengan pose gagahnya setengah mengepakkan sayap, seolah ingin terbang untuk menarik perhatian si betina. Sedangkan si betina? dia hanya diam menatap manja padanya. Paruh kedua merpati itu bersimpul senyum. Dan bagiku itu senyum penghinaan. Memang gila, tapi sesekali aku mendengar mereka ber-kkrrr ria mengejekku, seolah berkata “kami saja bisa berpasangan, dan kau?? Berapa usiamu??” suaranya merendahkanku.