Tampilkan postingan dengan label Flash Stories. Tampilkan semua postingan

Tulisan dan Pelarian

Delapan tahun lalu

“Tulisanmu bagus, kau cocok jadi penulis” kesekian puluh kalinya aku mendengar kalimat serupa. Tentu saja, lama-lama otakku tercuci juga. Aku tersenyum. Mungkin memang sebaiknya menjadi penulis saja.

Aku tidak berada di kesemuanya.

Pagiku tidak cerah, pun tidak semu. Sebagai selayaknya manusia yang tumbuh di zaman teknologi, pagi ini kumulai dengan membuka smartphone ku. Untuk apa? Entahlah aku hanya terbiasa.

Dehuminizing

pict by By Anais Galvez
The little girl screamed a lot, she shouted even with her hoarse voice. For once again she tried to escape from that locked room.
“L..LET ME OUT!” her voice started trembling.
In the other side of the door, an older girl smirked. Her hand soaked in sweat.
“No.. not this time, please” she wishpered as her voice was trembling too.
“LET ME OUT! YOU KNOW YOU NEED ME!” the little girl started crying.
The words weakened the older girl. She stepped back and took something behind the desk.
“P..please..” the little girl sobbed.
“…” the door was opened for a span.
“Tha — ” the little girl stopped smiling as she saw the older herself was holding a knife.
“do you know that you have ruined many things? do you know that ‘they’ don’t like you? ‘they’don’t even expect you to exist” The older girl smirked wider. She held the knife even tighter.

They both frightened.


The older girl walked away and left the door locked. She couldn’t help hearing the little girl crying, so she entered another room with many people in it.
The people with flat face clapped for her. She put her artificial smile on her face and soon, the show was ended.
It’s a magic show of childlish adults.
*inspired by webtoon of Melvina’s therapy*

In an Old House (2)

The Murderer

There’s a ball come to my yard. I feel so excited that I know someone will be here soon. I play the ball with my little brother corpse. He seems like that ball too.
fineartamerica.com

Myth of the Moth

picture from : uk.pinterest.com

In my city, there's a myth about a moth.

If a moth enters your house, in that day, you'll have a guest. A special one.

In an Old House (1)

The Unbeliever

As long as my life, I trust the words of no one. Because I know, that human beings are used to lie. So, in that evening, I still came to the old-empty-house to take my ball back. I ignored a warning from a little boy whom I met in the front of the gate.
fineartamerica.com

Little White Lie

Kau bilang, berbohong itu sah-sah saja asalkan demi sebuah kebaikan.

Invulnerable

I cut my wrist, and there’s no a single drop of blood dripping down my hand. I felt no pain at all.

Envy


I was so envy, until I wanted to peel your face and use it as my mask. I was too envy, so I could pull out your brain to implant it into my head. I was deadly envy to steal your hands and replace mine.
But then, I was awaken as you.
And you were doing what I thought.

Spechless

That girl talks wordlessly. She just sits there, passing over me, keeping her mouth in silence. This is our first fight and, I guess, I talk too much without saying a single “sorry”. I don’t think I need that word. She MUST regret messing up with me. No wonder, if she gets so speechless, but I don’t care.

Another Raining Story.


It was a gloomy day and rain just fell, wiped my tears with another teardrops. I stood under a huge tree. I supposed to be like rainy days. But not that day. 
Surprisingly, in that rainy day, I saw her. She came to me and smiled as if she knew me, and I knew her.

Mimpi dalam Mimpi


Dan pada sulaman mimpi itu, aku memimpikan mimpi yang lain: Dirimu.

Anak Hujan


                Hari ini, hujan turun agak keterlaluan. Saking lebatnya, orang-orang yang berpayung pun memilih berteduh ke emperan toko, kios-kios jajanan lebih memilih tutup untuk menyelamatkan aneka makanan dari cipratan hujan, kucing-kucing saling mengeong khawatir di gang sempit dan pemuda-pemudi dengan tidak eloknya saling merapatkan diri. Tapi aku mendapati anak kecil itu masih berjalan seperti biasa, bahkan, langkahnya lebih riang dari hari-hari sebelumnya. Anak itu justru asyik sendiri di tengah hujan lebat. Melihatnya, aku terhipnotis untuk membuka payungku (lagi), lalu mengikutinya.

Benang Layang-Layang

pict from:https://obsessioncompulsion.files.wordpress.com

Keningnya berkeringat lebat, dia dengan tergesa-gesa menarik benang yang tersambung dengan layangan yang sedang terombang-ambing, layangannya terlilit benang layangan lainnya. "Ah! Terlalu cepat!" gumamnya panik, dia kembali mengulur benang ditangannya membuat layangannya sedikit menjauh dan terlepas dengan layangan lawannya. "Ah! tu-tunggu!" Laki-laki muda itu setengah berlari menyeimbangkan posisi benang layangannya. Layangan biru gelap yang menjadi lawannya sepertinya berniat meninggalkan medan perang, mungkin pemilik layangan biru itu kesal, karena perang adu layangannya tak urung selesai. Pasalnya matahari sudah mulai menghilang.  "Dapat!" sekali lagi, benang layangannya melilit layangan biru gelap, kembali mengangkat bendera perang. Dia mengulur benangnya, memancing sang lawan agar menyerang terlebih dahulu, dan gagal. Layangan biru gelap itu dengan lincah meliuk-liuk melepaskan diri, menghindari perang. Si Laki-laki muda sedikit frustasi, tantangannya tidak ditanggapi, akhirnya dia menarik tajam benang layang-layang yang disebut-sebutnya sebagai gelasan itu. Sekali lagi, layangan biru lawannya terperangkap. 

Hari menjelang gelap, dan angin senja mulai menjadi angin malam yang dingin. Tapi laki-laki muda itu masih berkeringat lebat, terlalu asyik dengan permainannya. "berhentilah..berhentilah.." bisikku sia-sia. Dia malah semakin asyik menarik-ulur benang layangannya. Sesekali benang layangannya dia ulur ragu-ragu, memancing reaksi lawannya. Sesekali dia tarik benangnya perlahan, menjebak lawannya.Tiap strategi adu layangan dia terapkan dengan cermat dan detail. Tapi sepertinya lawannya tidak se-ahli laki-laki muda itu. Permainannya terlalu spontan, acak dan lebih tidak terbaca. Benang layangan birunya mengulur-menarik-mengulur-melilit-menarik-mengulur lagi semaunya.

Setelah matahari benar-benar terbenam, layangan biru itu seperti sudah kehabisan akal, dengan sekali tarikan, benang layangannya menegang kencang dan "pats!!" benang layangan laki-laki muda itu mendadak putus. Tapi tak lama, Layangan biru itu pun  tak nampak. Dulu kakakku sering menyebutnya teknik putus ganda. Memutuskan benang layangan lawan, tapi imbasnya, setelah itu benang layangan akan putus dengan sendirinya, karena sudah terlalu tipis akibat gaya gesek yang kuat dan tekanan angin yang kencang.

"Waktu habis" kataku menghela nafas, kulihat matahari sudah benar-benar hilang dihisap proses rotasi.

"Arrrrggghh" si laki-laki muda merutuk kesal dengan akhir perang yang nihil tanpa pemenang. 

"benang layang-layang ini terlalu tipis" Aku menggulung benang layang-layangku dan kembali menghela nafas panjang.
Layangan biru-ku terbang dan tersamar oleh gelapnya warna malam.

Mardun



Orang itu tertawa garing menatap tumpukan-tumpukan kertas yang berserakan, "Sampah" rutuknya pelan. Rambutnya berantakan, kamarnya pun berantakan. Baginya, malam ini adalah halloween special untuk menakuti dirinya sendiri. Menakuti dirinya tentang janji masa depan, menakuti dirinya tentang kehidupan, menakuti dirinya tentang kematian? Yah, sepertinya begitu.

Dia terdiam sejenak, mendengar sayup-sayup seseorang memanggilnya "Mardun! Mardun!". Sungguh, sekalipun demi kecoa yang sedang terbang kesana kemari, dia tidak ingin menghiraukan panggilan itu. Malam halloween ini hanya special miliknya, tidak ada pengganggu (titik). Jikalau suara itu naik hingga delapan oktaf dengan 200 desibel, barulah ia akan membuka pintu kamarnya. Dan mungkin, itu akan terjadi lima menit lagi. 

Sementara menunggu lima menit, orang itu menulis sebuah catatan kecil lalu menyimpannya di sebuah amplop yang akan dia kirimkan untuk dirinya di saat dua puluh tahun mendatang. Dan saat itu, dia mungkin akan membalas catatan kecil itu, atau bahkan melupakannya. Teserah dia.

Padahal,
catatan itu ternyata hanya berisi satu pertanyaan :

"apa itu masa depan?"

Mirorr-Mirorr (...) : Selamat Tidur.

Tidak ada tukang reparasi cermin untuk saat ini. Terlebih lagi untuk cermin ajaib. Sangat sulit!

Jadilah saat ini Mika harus bertemu dua gadis cermin setiap kali rapalan mantranya disebutkan :

"mirror mirror the miracle of our"

Mirror - Mirror IV : Selamat Tahun Baru!

“PRAKK!”

Sebuah cermin ajaib sempurna terbelah menjadi dua bagian yang menetap dalam bingkainya. Maka, tanpa rapalan apapun si gadis cermin di tarik paksa untuk muncul.

Mirror-Mirror III : Cerita Pagi Tadi

“mirror..mirror the miracle of ours..”
Satu lagi koneksi virtual tersambung. Tanpa kabel, tanpa internet.
Kali ini mika berbaju  biru gelap, duduk manis di meja belajar sambil menanti serpihan-serpihan bayangan yang membentuk serupa dirinya. Ya. Serupa tapi tak sama.

Mirror-Mirror II : Cerita Malam ini

“Mirrorr...Mirror..the.. miracle.. of our”  gumam pelan seorang gadis, suaranya benar-benar melenguh lemah di  antara kekosongan sebuah kamar kecil.
Di hadapannya, dalam sebuah cermin mulai muncul sesosok bayangan dirinya. Sekali lagi kukatakan,  Bayangan gadis yang sama persis, namun berbeda.
Malam ini, koneksi percakapan virtual kembali terjadi. Dan sekali lagi ku tegaskan, tanpa koneksi internet, tanpa kabel.

Mirror-Mirror : Cerita Kemarin Sore

Matahari mulai terbenam. Seorang gadis berbaju merah menyala terduduk di meja belajar sambil memandangi sebuah cermin sihir.Kenapa cermin sihir? Yah, karena di matamu, kau tidak akan melihat apapun. Tapi melalui mata gadis itu, teori relativitas cahaya enstein terkalahkan oleh teori imajinasi mimpi dari Walt disney.Bingung? Oke, aku deskripsikan ulang dengan situasi yang lebih simple