Gadis Porselen


            Jumat, 1 Juni 2012-- 02.03 PM
Aku masih ingat pertama kalinya mataku begitu tertarik menatap seseorang. Saat OSPEK (Orientasi Program Studi dan Pengenalan Kampus) sebuah kegiatan yang memiliki kesenangan tersendiri bagiku—sebagai senior— dan penyiksaan bagi para murid baru, Waktu itu kedua bola mataku dengan cerdasnya menangkap seseorang yang tidak begitu aktif, namun tidak juga pasif. Setiap gerak-geriknya, tingkah lakunya, caranya berbicara hingga caranya menatap para senior, entah kenapa secara otomatis terrekam oleh otak kecilku. Tapi tetap saja, aku masih punya harga diri untuk menyimpan rasa tertarikku itu. Sebelumnya, kupikir ketertarikan  ini hanya terjadi padaku, sayangnya tidak. Beberapa orang yang juga bermata jeli ternyata menyadari kehadirannya dan saling berbisik membicarakkannya, bahkan ada seorang temanku yang mendefinisikannya dengan satu kata : memesona. Saat itu aku tak meng-iya-kan pendapatnya, tapi aku juga tidak bisa  menyangkalnya.
Waktu itu mungkin sudah lima tahun yang lalu. Aku sudah mengenalnya sekarang bagaimana tidak, jalan hidupku sering kali bersimpangan dengannya. Mungkin ini karena aku memang sering mengikutinya (dan aku menolak dipanggil stalker) atau yang paling memungkinkan ialah bahwa ini memang jalan takdir yang sudah Allah tuliskan untukku (ya, dan aku lebih suka statement yang ini). Aku memanggilnya gadis porselen. Kau tahu kan boneka antik dari porselen yang menjadi khas orang eropa?  Yah seperti itulah dia. Sementara aku akan membeli sebuah boneka porselen, akan ku beri tahu kau tentang persamaan gadis itu dan boneka porselen.
Aku menyusuri jalan braga, sedikit merasakan sensasi kota-kota di negara eropa yang entah sedang musim apa disana sekarang ini, mungkin musim semi? musim dingin?  musim gugur? atau musim panas? Aku tak tahu. Tapi yang pasti sekarang sedang musim hujan di kota kembang ini, jadi tak aneh jika gerimis di jalan ini sedikit membuat cekikikan beberapa mahasiswi berubah menjadi rutukan-rutukan pelan, membuat sebagian pedangan koran sibuk menutupi koran-korannya dengan plastik, juga membuat para pedagang asongan bergeser tempat sekedar untuk berteduh dan menyelamatkan dagangan mereka dari kebasahan hujan. Sementara aku, no problem saja! toh gerimis ini tak akan mengahalangiku. Aku tetap menyusuri tempat-tempat penjual boneka, mencari boneka yang jarang ada di Indonesia. Bukan hal yang mudah memang, sudah hampir tiga tempat aku datangi, tapi tak ada tanda-tanda boneka porselen disana. Mungkin ini catatan pertamaku tentangnya dan boneka porselen, mereka sama-sama sulit dicari. Begitu Langka.
Matahari sudah mulai turun perlahan, tapi boneka itu masih tetap terasa langka, mungkin karena ini di Indonesia. Tapi, di penghujung jajaran pertokoan jalan braga, sebuah toko antik terlihat begitu mencolok dengan nuansa warna coklat dan kuning emas gaya dekorasinya khas Belanda, tempat ini sedah seperti situs peninggalan sejarah Belanda dulu.
Aku masuk. Nuansanya tempat ini memang agak kuno, tapi barang-barangnya tetap modern seperti boneka, pajangan, aksesoris ponsel, dan beberapa benda −yang sepertinya− hanya diketahui fungsinya oleh para perempuan.
“Ada boneka porselen pak?” aku bertanya pada seorang pria yang terlihat lebih tua dariku, dia tersenyum dan bangkit dari tempat duduknya di belakang meja kasir “Oh.. ada kang, sebelah sini!”  setelah tersenyum ramah, ia membawaku kesebuah ruangan lain, lebih kecil dari tempat sebelumnya dan tempat ini tersekat sebuah rak boneka-boneka lembut umumnya. Catatan keduaku tentangnya dan boneka poreslen, sama-sama berada di tempat yang khusus.
Aku melihat boneka-boneka porselen yang berjajar rapi di tiga baris rak. Di rak pertama boneka porselen yang berbentuk binatang dijajarkan, ada angsa, merpati, lumba-lumba dan yang lainnya. Kata bapak penjaga toko tadi, hewan-hewan ini adalah simbol yang memiliki makna tertentu. Aku tak begitu mengerti penjelasannya yang secepat kilat. Di rak kedua kebanyakan boneka porselen ini seperti menggambarkan sebuah kisah, ada boneka yang sedang duduk berpasangan, ada boneka seorang gadis yang sedang menangis, ada boneka wanita tua yang sedang duduk di bangku taman,  ada juga boneka anak yang sedang membawa keranjang bunga. Mereka terlihat begitu nyata, tapi belum ada yang menarik perhatianku. Sampai di rak ketiga, kulihat jajaran boneka porselen gadis-gadis dengan berbagai macam gaya, pakaian dan ekspresi. Aku mulai memilih.
Satu persatu, aku tatap boneka-boneka itu seolah akan mewawancarai mereka. Mata mereka pun seperti berbicara padaku, saling menarik perhatianku meminta diajak pulang. Dan sepasang mata cokelat dari sebuah boneka porselen menarikku mundur.
Sabtu, 16 Desember 2006
Aku melihatnya sedang menoleh kesana kemari, seperti mencari sesuatu. Tapi ekspresinya masih saja tenang. Sesekali ia melihat jam tangannya, mungkin khawatir kesiangan. Aku memberanikan diri menghampirinya.
kamu jurusan kimia ya? Gedungnya di sebelah sana” percakapan pertamaku dengannya. Dia terdiam, menatapku agak tajam dengan bola mata coklatnya. Ck sombong sekali, aku kan seniornya, lagi pula aku hanya ingin membantu. Eh? tunggu, apa dia benar-benar sedang membutuhkan bantuan? Aku kalut sendiri melihat bola mata cokelatnya.
“Hm..ya..makasih ka afkar” dia tersenyum tipis sekali, menundukan kepalanya dengan hormat, lalu melenggang pergi. Begitu angkuh tapi anggun! Satu hal saja yang tertangkap otakku waktu itu : dia tahu namaku. Mungkin tadi dia menatapku tajam karena mengingat-ingat namaku, hanya itu alasan paling rasional −dan narsis− yang kumiliki. Ah sudahlah!
“sama-sama Lyan”  balasku pelan, masih mempertahankan harga diri. Dia sedikit menoleh, mengagguk lagi, (tak tahu apa maksud anggukannya) lalu berjalan lagi. Meskipun percakapan pertamaku dengannya tak begitu jelas, minimal aku bangga karena dia tahu namaku. Terang saja dia tahu, toh kau seniornya waktu OSPEK  Pernyataan sisi pikiranku yang lain itu, sedikit membuat kebanggaanku melempem lagi.
kang! mau yang ini?” bapak penjaga toko tadi memegang bahuku, mengembalikan arah waktu. Dia terlihat heran dengan tingkahku yang mematung begitu saja.
“ah! iya pak ....yang ini saja..” kataku menunjuk sebuah boneka porselen bermata cokelat dengan ukiran rambut yang agak ikal berwarna hitam legam. Kepalanya sedikit menoleh kearah kanan sambil tersenyum bahagia seolah baru saja melihat orang yang telah lama ia tunggu, badannya yang anggun berpakaian putih khas gadis eropa di zaman pertengahan dengan banyak renda di pinggiran lengan bajunya, sambil terduduk di batang pohon yang cokelat dengan anggunnya.
Bapak penjaga toko –yang namanya belum ku ketahui– itu mengambilnya perlahan menuju meja kasir. Ah iya! dan aku baru sadar semua boneka poreselen ini ada didalam kotak bening seperti kaca (meskipun sebenarnya itu adalah plastik mika) yang tertutup rapi dan terdapat pintu pembuka diatasnya, mungkin untuk mengeluarmasukkan bonekanya.
“kenapa dikurung di kotak kaca seperti ini pak?” tanyaku iseng
“bukan dikurung atuh kang, justru ini supaya bonekanya bersih.. gak cepat kena debu” jawabnya dengan logat sunda yang semakin terasa.
“hm....”
Selasa, 13 maret 2007
Sudah setahun dia berada di tempat ini. Dan hari ini, genap sudah delapan orang yang menyatakan perasaannya padamu secara terang-terangan (tidak tahu berapa banyak yang sembunyi-sembunyi), namun semuanya mendapatkan penolakan mentah yang lembut. Kau menolak mereka dengan tegas, tanpa ba-bi-bu ataupun tenggat waktu. Anehnya, kau masih menghargai usaha juga harga diri mereka, membuat sebagian orang semakin gigih mendekatimu, sebagian lain mulai menyerah. Bagaimana aku tahu?  jangan tanya. 
Temanku (yang juga mengagumimu) pernah bilang, Kau itu seperti benda dalam etalase yang terlihat jelas dan menarik perhatian, tapi tak boleh sembarangan di pegang. Ya! dan itulah catatan ketigaku tentangnya dan boneka porselen, sama-sama terlindung selubung kaca. Orang seperti apa yang bisa menembusnya? Belum ada jawaban akurat, apalagi yang terbukti secara ilmiah! Karena itu aku berniat menanyakannya langsung.
“Hei, Lyan...ini sudah kedelapan kalinya kau menolak orang”  satu waktu setelah rapat organisasi, aku berkesempatan untuk bertanya.
“Hn..ya..” jawabnya irit! mengesalkan sekaligus menggemaskan.
“Kau itu terlalu pilih-pilih” kataku spontan, dia hanya tersenyum.
“Harus!”
“memangnya yang seperti apa yang mau kau pilih?”
“yang siap menanggung resiko”
“hah? resiko apa?” dia diam tak menjawab, malah pura pura tak mendengar.
“jika resiko yang kau maksud itu sikapmu yang sombong, angkuh, cuek, mengesalkan juga sok pintar, maka akan ku tanggung.”  ku lihat dia menoleh kearahku, kmatanya membulat kaget, dan terdiam cukup lama, aku tersenyum penuh makna padanya.
Dia membalas senyumku dengan senyuman yang lebih manis dari sebelumnya! Wajahnya yang putih terlihat agak merah, tapi dia langsung melenggang pergi. Catatan keempat, sama-sama misterius!
Kang! melamun wae, ini bonekanya untuk hadiah bukan?” Bapak penjaga toko kembali menarik waktuku dengan pertanyaannya.
“eh..? iya pak.. untuk hadiah...”
“mau di bungkus atau pake pita?” katanya tersenyum padaku
“gratis biaya tambahan lah buat akang mah!” tambahnya lagi dengan senyum  yang semakin lebar.
“ah.. pakai pita saja, makasih pak” aku tak tega wajah boneka porselen itu terhalang kertas kado. Aku membalas senyum bapak itu, atas kebaikan penawarannya dan “usahanya” mengembalikanku dari kenangan manis.
Aku membiarkan mataku menjelajahi ruangan toko antik ini, tanganku pun sesekali iseng memegang benda-benda pajangan lain yang berada di rak, meski pada akhirnya tanganku kembali menyentuh boneka jelita itu. Si bapak penjaga toko sedang mengambil pita yang cocok untuk hiasan ditempel di kotak bening pelindung boneka porselen ini. Aku mengambil boneka porselen itu keluar dari kotaknya. Aku ingin membiarkannya mengenal udara segar juga agar dia bisa melihatku, calon pemiliknya dari dekat.
“Pitanya yang ini gimana kang?” Si bapak penjaga toko datang tiba-tiba di depan, membuatku kaget dan mengendurkan pegangan tanganku pada boneka porselen itu..
“aaaah!”
Jumat, 19 September 2009
“BRAKKK!”  tubuhnya tumbang nyaris membentur jajaran bangku depan jika tak segera ku tangkap. Semua panik.
Baru saja aku akan memberi ucapan selamat dan “hadiah” atas puncak harinya di tempat ini. Tapi yang kulihat kini adalah wajahnya yang pucat pasi tanpa senyuman, dan tangannya sedingin boneka porselen yang bertahun-tahun dibiarkan terselimut salju. Putih, dingin, kaku. Keluarganya bergegas menghampiri, meminta di tunjukkan rumah sakit terdekat. Baru kali ini aku bertemu keluarganya, dan kini aku satu mobil dengan mereka diantara kecepatan yang dipaksakan. Yang terpenting adalah rumah sakit! itu saja yang tercetak dibenakku, dan kurasa di benak keluarganya juga.
Sudah hampir sebelas jam dan dokter maupun perawat masih berlalu lalang di ruangannya, melakukan rangkaian pemeriksaan yang panjang tanpa memberi kabar apapun. Ibunya, memintaku juga sahabatnya (yang ikut menemani) untuk pulang saja, dan kami menolak.Aku menolak. Sampai aku mendapatkan informasi tentang “pengacau” hari wisudanya. Aku akan tetap disini.
Esok paginya, dokter baru memberikan kabar pada orang tuanya. Aku tak tahu kabar semacam apa itu, tapi aku yakin itu kabar buruk, kulihat Ibunya hanya menangis dan menangis setelah mendengar kabar itu. Setelah keluarganya keluar ruangan perawatan, akhirnya aku dan sahabatnya diizinkan untuk melihat keadannya.
Aku masuk. Bau tajam obat-obatan mulai menyerang indra pembau-ku, wajahnya yang putih pucat mulai senada dengan tembok-tembok rumah sakit yang juga dicat putih, belum lagi seprai kasur, sarung bantal dan selimut tipis berwarana putih semakin menyamarkan keberadaannya. Bola matanya saja yang masih coklat pekat dan –masih juga– berbinar, dia tersenyum, sahabatnya menangis.
“terima kasih” gumamnya sambil tersenyum menatapku, kalau saja bibirnya tidak sepucat kini, mungkin senyumnya itu sudah membuatku berbunga-bunga, bukan merasakan kepiluan yang teramat sangat. Aku hanya bisa membalas senyumnya.
Aku membuka mata dan kudapati boneka porselen itu selamat diantara kedua tanganku. Aku bernafas lega, Bapak penjaga toko pun ikut-ikutan bernafas lega.
“untung saja akang cekatan, kalau saja boneka itu jatuh pasti langsung pecah....” sementara aku berdiri dan mengembalikan boneka porselen itu ke kotaknya, aku mendengar bapak penjaga toko itu menjelaskan bahwa boneka porselen itu terbuat dari keramik kaca. Meskipun terlihat kokoh dan kuat sebenarnya akan mudah retak dan pecah jika terbentur sedikit saja.Rapuh. Makanya kotak mika ini juga tidak hanya melindunginya dari debu. Dan penjelasan itulah yang menjadi catatan kelima tentangnya dan boneka porselen.
“Ini untuk hadiah apa kang?” Bapak penjaga toko itu kembali tersenyum dan berbasa-basi untuk menenangkan rasa kagetku
“ulang tahun”
            Rabu, 1 Juni 2011
            Hari ini aku melihatnya begitu cantik. Rambutnya yang hitam begitu kontras dengan kulit putihnya, senyuman tipis khasnya tersemat rapi di bibirnya, bola mata cokelatnya masih saja berbinar. Baju terusan cokelat yang senada dengan matanya menambah kesan Anggun untuknya. Maka Catatan utama tentangnya dan boneka porselen, sama-sama cantik.
            Di acara reuni kampus ini, aku baru tahu kalau hari ini hari ulang tahunnya..
            “yah... aku gak bawa kado tuh” kataku pada Lyan
“tenang, masih ada tahun depan, aku tunggu hadiahnya he..he..” baru kali ini aku mendengar kalimat Lyan sepanjang itu, senyumanya pun lebih cerah. Entah memang karena dia sedang senang atau mungkin malah sedang menyembunyikan sesuatu.
Jumat, 1 Juni 2012—05.07PM
Gerimis mulai reda, dan matahari pun sudah mulai jatuh ke barat. Di perjalanan pulang, aku banyak bercerita dengan boneka porselen itu. Catatan-catatan tentang mereka berdua semakin banyak.  Kenangan-kenangan pun semakin banyak berdatangan. Tapi waktu tetap tak berkenan mengembalikan kesempatan. Aku pun hanya membawa boneka porselen itu berziarah. 

Mata Kucingnya

          
Satu dari sekian ribu titik di dunia ini pasti ada yang mencolok. Titik itu dia. Dan.. Hei! Kenapa dia harus terlihat mencolok di pandanganku? Sementara tingkahnya hanya diam saja, tak lebih dari membatu. Satu jam pelajaran ini sepertinya aku sudah tiga belas kali (hanya) meliriknya, bergumam kecil dalam hati agar ia mengacungkan tangannya. Tapi Nihil, sia-sia! Murid-murid lainnya lebih sering mengacungkan tangan, menjawab pertanyaanku, berargumen, sesekali adu argumen dan berceloteh. Sementara dia? Bibirnya diam saja. Tapi aku sangat yakin pikirannya berbicara banyak, mungkin lebih banyak dari lilitan gelombang transversal yang tak terlihat di ruangan ini. Aku tahu. Karena matanya tak pernah diam.
“Saya!”  Neal mengacungkan tangan, dia memang paling aktif di kelas ini. Bahkan populer di kalangan para gadis di kampus ini.
Silence is Gold (diam itu emas)” jawabnya di iringi yey-ria dari murid yang lain. Sementara matanya mengerjap berbinar seiring dengan bibirnya yang tersenyum (sangat) tipis.
yes. That’s right, Is there anyone wanna give another proverbs? (ya, betul. Ada lagi  yang mau memberikan contoh pribahasa lain?)” tanyaku lagi. Serentak beberapa murid lainnya mengacungkan tangan, kecuali dia tentunya. Selalu begitu. Dan pelajaran kembali mengalir seperti biasanya.
Well. I hope next meeting all of you can speak up..Ok?” kataku menekankan kalimat terakhir sebelum menutup kelasku. Matanya berputar keatas dan menjadi sayu, di menghela nafas. Mungkin dia sedikit sadar bahwa ‘you’ yang ku maksud lebih mengarah kepadanya.
***
12 November 2003
Kalau kau mau tahu, matanya benar-benar seperti mata kucing yang pupilnya akan menajam jika merasa terancam, membulat ketika manja, atau bahkan ‘bersinar’ dalam gelap . Sejauh ini, mata kucing itulah yang membuatnya terlihat mencolok. Sisanya aku tak tahu, mendengar sepatah kata darinya pun amat jarang.
Dan hari ini aku melihat matanya begitu awas, bola mata coklatnya melirik kesana-kemari, sesekali mata itu menatap  jarum jam tangannya lalu alisnya mengerut dan mata itu ikut mengerut kesal.  Aku tahu, dia sedang menunggu seseorang. Niatnya, aku tetap akan terduduk di kursi dan memerhatikannya melalui  proyektor  jendela ini, seperti biasanya. Tapi kali ini semuanya akan berbeda. Aku keluar ruangan ku menghirup sedikit udara yang lebih segar dibandingkan AC, menghampirinya dan menatap langsung mata yang mecolok itu.
Dia balik menatapku, tanpa ragu, angkuh sekali... sedetik kemudian matanya menyipit dan menjadi lengkungan sempurna seiringan dengan lengkungan bibirnya. Dia tersenyum sempurna.
“Ada apa pak?”  sapanya dengan santun. Aku tak tau kalau suaranya pun ternyata mencolok? Ah! Mungkin lain kali kalian akan ku beri tahu.
“Tidak ada apa-apa. Sedang menunggu siapa?” Aku melihat mata kucingnya menerawang jalanan taman kampus ini, mungkin masih berharap menemukan sosok yang ditunggunya.
“Teman” kali ini mata kucingnya berbinar, sama seperti matanya ketika sedang memerhatikan pelajaranku.
Mungkin itulah yang membuatku menganggapnya sebagai seorang yang mencolok, binar matanya ketika memerhatikan pelajaranku sangat terlihat jelas. Seolah tak ingin terlewat satu kata pun dari pelajaranku, seolah dia akan berbicara banyak. Namun selalu nihil. Tak satu kata pun keluar dari mulutnya. Tapi matanya selalu mengerjap, menajam, membulat, mewakili mulutnya yang terkunci rapat.
“hm...kau dari kelas 3.2 kan?” aku (pura-pura) baru saja mengingatnya
“ya pak..” kali ini dia mengangguk, matanya membulat dan masih berbinar
“ya..ya.. jarang sekali terlihat aktif dikelas ya?  Jadinya lupa-lupa ingat...” Gurauku sedikit dusta, mungkin seharusnya aku bilang ‘ingat-ingat lupa’  karena lebih banyak ingatnya dari pada lupanya. Dia menoleh menatapku langsung, tersenyum tipis lagi seperti biasanya, lalu bola mata coklatnya agak meredup. Kenapa?
“aih! Dyla, maaf telat... eh?? Pak Adrian..? Siang pak..hehe”  gadis itu membungkuk  hormat padaku.
“oh... jadi ini yang ditunggu-tunggu...” kataku akrab. Lina, gadis yang hormat padaku tadi menanggapiku dengan candaannya (dan lagi) seperti biasanya.
“lain kali jangan pakai jam karet ya! Kasihan temanmu menunggu...bisa karatan...tuh hehe ya sudah ya..” kataku bercanda sambil lalu. Terakhir kali, kulihat mata kucing itu menatap kosong kearahku.
***
13 Maret 2004
Sampai saat ini,  putaran kegiatan di kampus masih saja seperti biasanya. Aku masih mengajar sebagai asisten dosen (sambil berharap bisa naik jabatan), murid-muridku masih mengeluh jika di beri tugas makalah, dan sebagian murid lain masih liar kesana-kemari menjadi aktifis di berbagai macam tempat. Satu-satunya yang menurutku tidak selalu ‘seperti biasanya’ ya mata kucingnya itu. Mata yang selalu melihat ke arah langit jika hujan turun, mata yang akan menggerling senang ketika sedang berbincang dengan teman-temannya, dan mata yang selalu menatap angkuh kepada siapapun yang menyinggungnya. Mata yang ramah dan bisa berubah menakutkan.
Dan pagi ini aku menyesal karena selalu memaksanya berbicara di pelajaranku. Kali ini dia mulai berdiri dan menunjukan dirinya, berbicara panjang lebar untuk pertama kalinya, bahkan ia ikut beradu argumen di kelasnya. Dan lihatlah... mata kucing itu lebih mencolok dari biasanya, matanya seolah tersenyum puas karena bisa mentransfer kata-kata ke mulutnya.  Aku menyesal. Dengan begini semua orang tahu tentang pesona matanya. Matanya telah menghipnotis mata-mata lainnya untuk saling berinteraksi.Tidak lagi hanya aku yang tahu tentang mata kucingnya yang tersembunyi di antara puluhan orang yang ramai. Kali ini semua orang terfokus pada matanya yang ‘mencolok tapi memesona’ itu. Aku menyesal.
Dan belakangan...aku baru tahu, mata kucingnya itu manjadi kamuflase metamorganaku saja. Menyedihkan.

Artists in ‘The Art Politica’


Most of  Indonesian do not agree with the artists' involvement into politics as it can shifts the existence of politician in Indonesia; moreover exacerbate domestic credibility with the ‘unprofessional’ positioning profession. They assume that artists only rely on their magnet popularities in politics, they already have had a lot of fans, and their own imaging in public will be able to come into the politics easily. Karel Harto Susteyo as a political analysis said that the existence of the artist in politics is a shift in government. Their presence in politics can change political issue into an entertaintmet news that will be a ‘booming’  news in public sphare, and it clearly explains that artists don’t have a good implementation in politics.

‘KEPO’ Membanting Bahasa Indonesia kah??

Well, karena  sudah terlanjur kepo...let’s talking about this!!



            “lagi ngomongin apa nih?”
            “Ih kakak kepo deh...”
            “wah dasar kepo banget sih..!”

Sepertinya dua seruan tersebut sudah lazim menjadi trending topic orang-orang saat ini. Menurut prediksi saya, jika ada Rating untuk trending Gaul’s Language, mungkin  kata ‘KEPO’  ini sudah menjadi  Five TOP Rating Gaul’s Language bersama kata ‘Cupu’ ‘Ciyus’ ‘Galau’ dan ‘Cetar Membahana’

Sebelumnya,  bahasa-bahasa gaul itu memang sudah ada dalam aturan siklus komunikasi hidupnya manusia.  Lagipula bahasa-bahasa gaul itu merupakan sebuah bumbu tersendiri supaya komunikasi kita tidak se-kaku dan se-baku  Soal-soal di Ujian Nasional Bahasa Indonesia. Bisa stress binti frustasi kita kalau bicara harus sebaku itu *oke skip bagian ini* Asal tahu saja, adanya bahasa gaul itu sebenarnya dari sejak tahun 70’an. Yah kira-kira... zaman-zamannya orang tua kita pake celana cutbray dan headband kepang. Dulu bahasa gaul itu biasa digunakan untuk komunitas tertentu aja.. tapi berhubung semakin menarik, maka seiring pergeseran zaman bahasa  gaul ini sudah jadi bahasa keseharian, terutama  di kalangan remaja tanggung dan remaja setengah matang semacam saya. -__-

Nah... Tapi yang (menurut saya) menjadi permasalahan anehnya, beberapa bahasa gaul zaman sekarang itu jusrtu semakin  jauh dari bahasa asalnya.  Kalau dulu kita kenal bahasa “Meneketehe” sebagai plesetan dari bahasa “Mana kutahu”  atau mungkin kata “Jaim” sebagai singkatan “Jaga Image”  Sama halnya seperti kata ‘Ciyus’ yang merupakan pelesetan kata ‘”Serius” (yang dibuat cadel) atau kata “Cupu” yang merupakan singkatan “Culun punya” atau juga kata “Galau” yang sudah jelas artinya tercantum di Kamus Besar Bahasa Indonesia dan soal “Cetar Membahana” tidak perlulah saya jelaskan lagi... kalian pasti sudah lebih ahli dalam cetar men-cetar ...Tpi anehnya kata ‘KEPO’ ini yang artinya paling membanting.... KEPO =  rasa ingin tahu banget. Nah loh...? kemiripan bahasanya dari mana?

Well... sebenarnya saya agak khawatir jika suatu hari nanti di era yang lebih maju dan modern ketika sudah ada zaman baru dan menggantikan zaman kita yang mulai punah. Lalu orang-orang di zaman baru itu (misalnya) menemukan sebuah buku catatan yang nantinya mereka anggap prasasti dan di buku itu tertulis “Hari ini temen gue kepo banget deh.-_-“   bagaimana nantinya mereka mengartikan KEPO...? jangan-jangan nanti sejarah zaman kita akan sulit terungkap karena mereka sulit mengartikan kata ‘KEPO’  itu. Kalian tahu kan? Sejarah zaman kerajaan tarumanegara saja bisa kita ketahui dari prasasti cina yang menyebutkan sebuah tempat bernama to-lo-mo karena kemiripan lafalnya ta-ru-ma (sepertinya ini juga bukti bahwa oranag cina *termasuk saya* tidak sanggup megucapkan huruf “R” dengan fasih horay!). *aih.. kok jadi ngaco!? Oke SKIP juga bagian imajinasi ini*

Intinya, saking kepo nya dengan asal muasal kata ‘KEPO’  ini akhirnya saya googling (karena di perpustakaan belum ada buku tentang KEPO) dan ternyata  ada banyak asumsi, presepsi dan paradigma dalam pendefinisian kata ini (wuih..bahasannya cetar sekali). Banyak sekali yang mengartikan kata kepo ini  seperti :
1.    Ada yang mengartikan bahwa KEPO ini adalah singkatan dari “KElakuan POlisi” karea kelakuan polisi yang sering banyak tanya dan ‘mau tau aja’.... (tapi insting saya sebagai detektif berkata bahwa motif ini masih kurang rasional..hoho..) Akhirnya saja lanjutkan googling dengan cita rasa ke-kepo-an yang semakin meningkat.

2.   Saya pun menemukan sebuah kitab panduan (http://kitabgaul.com/) *cupunya saya baru tahu  gaul juga ada kitabnya. -_- sepertinya tinggal tunggu acara  gaul awardnya landing* yang mendefinisikan KEPO berasal dari bahasa hokkian. Ke = Bertanya, Po (Apo) = Nenek2. Jadi artinya nenek2 yg suka bertanya2. Pingin tau banget gitu.. (berhubung nenek saya tidak terlalu banyak tanya,  jadi saya rasa definisi ini masih perlu bukti yang kuat)

3.   Masih dari kitab gaul, ada juga yang mengartikan KEPO sebagai singkatan dari Knowing Every Particular Object yang bisa diartikan sebagai : ingin tahu setiap urusan khusus/org lain. (karena saya dari jurusan bahasa inggris jadi agak setuju lah dengan definisi ini)

4.   Masih juga dari kitab gaul, KEPO adalah bahasa hokkien tionghoa medan/tionghoa sumatera yg sering digunakan untuk memarahi/mengejek orang karna kurang kerjaan(jadi mengerjakan kerjaan yg bukan kerjaannya),sibuk tak menentu.  (well.. mungkin bisa jadi ini sejarahnya -__-)

5.   Dan masih di kitab gaul juga, ada yang mendefinisikan  KEPO ini singkatan dari kek pembokat (kayak pembantu), banyak nanya...disuruh ngrjain a byk tnya dulu, gag tanggap. (definisi ini agak ‘tragis’ sepertinya)

6.    Tetap di kitab gaul, ada juga yang mendefinisikan KEPO ini singkatan kea polisi/ kayak polisi (Oke, mungkin maksudnya sama seperti definisi pertama hanya saja ‘terlalu’ gaul hingga jatohnya alay..)

7. Dan akhirnya saya temukan definisi lain  dari salah satu blog (http://detakketikcerita.blogspot.com) yang mengartikan bahwa KEPO ini berasal dari kata “keypo” dalam  Bahasa Hokkien (bahasa yang digunakan oleh komunitas Tionghoa di Medan, Pekanbaru, dan Palembang), yang kemudian sudah menjadi kata serapan di Bahasa Singlish (Singaporean English). Arti dari keypo, ini adalah "ingin tahu" , hanya saja tidak dalam konteks negatif seperti ke-kepo-an yang sering kita dengar. (dan saya rasa ini lah definisi yang paling masuk akal)

Ternyata setelah ditelaah lewat definisi, kata KEPO ini memang punya arti dan makna yang jauh sekali dengan pengucapannya, tidak seperti bahasa gaul lainnya yang hanya diambil dari kesamaan pengucapan yang dipelesetkan atau diambil dari akronim maupun singkatan. Jelas lah kata KEPO ini makna nya jauh karena berasal dari kata bahasa hokkien  yang kemudian menjadi kata serapan Singlish  dengan artian lain kata KEPO ini justru tidak berasal dari Bahasa Indonesia asli melainkan diambil dari bahasa di negara lain atau komunitas tertentu yang berada di Indonesia. Of course, hal ini bukan berarti bahasa gaul itu sudah membanting keberadaan bahasa asli indonesia, tapi ini sebenarnya bisa jadi bukti bahwa sistem komunikasi bahasa di indonesia mulai menyebar meluas. Hanya saja kita jangan terlalu sering mengonsumsinya karena kita harus tahu kapan dan waktu yang tepat untuk berbahasa gaul (dalam artian lain jangan berbahasa gaul dengan dosen yang killer) *Oke Paragraph terakhir ini Ciyus lho*

Oke segitu saja... cerita ke-kepo-an saya.. See ya!

Between 'Pacaran' and 'Komitmen'

Well.. ini salah satu artikel saya di zaman saya waktu masih muda *what!?*  dan yang pertama publish di majalah sekolah waktu itu.. membuka file-file tulisan saya ketika zaman - zaman labil tingkat tinggi (sekarng pun sebenarnya masih labil) memang sangat lucu (read : menggelikan) tapi juga ternyata punya makna sendiri. Jadi, tidak ada salahnya saya posting sebagai remembering dari karakter saya yang (bisa dibilang) sebenarnya.

So.. here we are...




Assalamu’alaikum!!!!
            Ukhti and akhi semua udah pada kenal kaaan dengan pacaran???? Of course, tau donk!!! Hari gini ga tau pacaran?? Tapi...... udah tau juga kaaann kalau pacaran itu ga ada dalam Islam????!!! Hayo!
            Ok deh.. sedikit kita ulas lagi,, Kenapa ya.... di islam gak ada istilah pacaran????
Seperti yang sudah merebak di zaman ini... Pacaran kita kenal dengan hubungan antara ikhwan dan akhwat yang beralaskan cinta...(yang jelas cinta yang masih semu..), kau miliku, cinta sejatiku de el el..  banyak deh ungkapan dalam pacaran!! Tapi kebanyakan hasilnya nihil... dan yang perlu ditegaskaaan....:
1.      Cinta yang paling Sejati itu adalah untuk yang Paaling mencintai kita, mengawasi kita tiap hari, memberi  kita kecukupan rizqi, bahkan yang menciptakan kita..Yupz..Dialah Allah swt, yang jelas selalu ada untuk kita..
2.      Apa sih tujuan pacaran? apakah ibadah atau ikut ikutan nafsu syaithan???
Pacaran itu...buat dapet Perhatian lebih... Oh ya? Kenapa bukan dari Allah? Orang tua? Sahabat? Pacaran itu... buat meningkatkan belajar ( biar rajin and semangat sekolaah gitu..)? memangnya kita sekolah untuk apa...?pamer nilai sama pacar? trus kalau putus? Ga semangat lagi belajarnya?? Yang pasti,, Pacaran bisa berdampak negatif untuk pergaulan.
3.      Pacaran itu... satu jalan menuju zina... sedangkan  Allah sudah jelas berfirman “dan janganlah kamu mendekati Zina”, lagi pula Rasulullah saw tak pernah mengajarkan pacaran apalagi berduaan..
Daaan masih banyak lagi alasannya......

Okelah kalau begitu...... kita terima.. pacaran TIDAK ADA dalam Islam...
“kita ga ada hubungan or istilah pacaran... hanya saja kita saling berkomitmen, saling menunggu untuk bersama....”Nah lho...!! Sekarang ganti judul tuh...

      Sebelum berkomitmen... apa kita sudah tau, Apa sih komitmen itu? Sebesar apa nilainya? Komitmen itu kakaknya  atau  adeknya pacaran ya?? Yuk.... Kita cari tahu!
      Komitmen adalah suatu janji atau tanggung jawab. Ada juga yang bilang bahwa komitmen itu adalah sesuatu yang membuat seseorang memikul resiko dan konsekuensi dari keputusannya tanpa mengeluh. Komitmen juga bisa diartikan suatu janji pada diri kita sendiri ataupun orang lain yang tercermin dalam tindakan kita ,, berarti kalau mengingkarinya, kita termasuk orang yang...... Munafik... hayo.... sudah tertera dalam hadits Rasulullah saw  bahwa salah satu cirri orang munafik itu, apabila berjanji.. dia ingkar!
      Jadi, komitmen itu nilainya lebih besar dalam pacaran... yang jelas dalam komitmen itu harus ada kepercayaan, kesiapan dan keseriusan dalam menerima konsekuensi....  bukan hanya sebuah ucapan yang di obral atau dimurahkan...
Sekarang, ketika seseorang yang sudah akil baligh, berkomitmen dengan lawan jenisnya “agar saling menunggu untuk bersama”... artinya dia sudah percaya, siap, dan serius menerima konsekuensinya,, tapi apakah komitmennya sudah terpelihara?? Kalau memang sudah percaya, siap dan serius menerima konsekuensi Kenapa tidak langung melamar/meminang ke orang tuanya saja ( jadi berkomitmen dengan orang tuanya...hehe)?  
Jika kita berkomitmen untuk menunggu.... berarti kesetiaan kita untuk menunggu akan diuji, dan itu bukan hal yang ringan,, karena pasti adanya komitmen itu terdorong oleh suatu perasaan antara ikhwan dan akhwat..... ketika perasaan tersebut berubah menjadi nasfu yang di iringi syaithan... bisa saja perasaan tersebut malah berubah menjadi Zina Hati.....
Zina Hati itu mengharapkan dan menginginkan sesuatu untuk memenuhi “nafsu”,,
Kita tidak akan tau pasti apakah perasaan tersebut akan di ridhai oleh Allah swt atau malah menjadi nafsu yang mengacu pada  Zina hati dan dosa...
Sebenarnya, ketika kita memiliki perasaan khusus pada seeorang (lawan jenis), dan tak ingin Pacaran karena melanggar aturan Islam,  bukan berarti kita dengan mudahnya berkomitmen dengan orang tersebut (tanpa pacaran).... tapi, berkomitmenlah dengan Allah swt,, agar Allah swt senantisa menjaga “seseorang” itu, agar suatu hari nanti kita dapat bertemu dan selalu bersama dengan orang tersebut..... tentu saja dalam keridhoan Allah swt Sesungguhnya Allah maha mengerti segala isi hati...
Berkomitmen boleh saja...asal kita benar - benar sanggup memenuhi komitmen tersebut ......

Jadi, intinya... ketika kita berkomitmen untuk perasaan kita pada seseorang,, kita dihadapkan pada pilihan... Apakah mau berkomitmen langsung pada orang tua “seseorang” tersebut dengan meminang/melamar, atau mau berkomitmen dengan Allah untuk menjaga “seseorang” tersebut?? Atau keukeuh berkomitmen dengan “seseorang” tersebut untuk saling menunggu, dengan melewati kemungkinan besar berzina (utamanya zina hati.....)....hiiiiyy... remember,!!!!!!


Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.(Q.S Al isra: 23)

Pacaran or Komitmen?? Mana yang akan jadi pilihanmu???

Semoga kita dapat berkomitmen dengan baik, dan diridhai Allah swt...Amin...
Wassalamu’alaikum wr.wb

Jadi.... dari Otak atau Hati??


Oke.. berhubung bulan-bulan ini kebanyakan dari teman-teman saya sedang terserang virus gila VMJ (Virus Merah Jambu) yang bahayanya sedang marak-maraknya menular drastis *lirik @Imyusmus @Maesah Ilyas @Pikupiww @Ayu Karlinaa, Musrida yanti dan yang lainnya (yang kalau disebutkan akan mnjadi daftar sepanjang 1 kilometer dan menghabiskan tinta lebih dari 3 pena)* 

Sebelum kalian semakin kronis dan sebelum saya ikut tertular, saya ancang-ancang kalian dengan artikel yang baru saja saya temukan dengan judul Fakta Bahwa Cinta Berasal dari Reaksi OTAK 

So.... you can still control your feelings....hohoho.... 


Inilah Repostnya..Happy reading Happy fall in love... :D  *SMIRK*

Jatuh cinta berjuta rasanya. Saat seseorang merasakan cinta yang mendalam, jantungnya berdetak kencang, 
perut seperti terikat, emosinya naik-turun, merasa luar biasa bahagia beberapa saat lalu cemas dan putus asa sesaat kemudian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perasaan seperti itu datangnya dari otak, bukan hati. 

Dalam sebuah studi ilmuwan memantau citra resonansi magnetis otak dari sepuluh wanita dan tujuh pria yang mengaku sedang jatuh cinta. Usia hubungan mereka berkisar dari satu bulan sampai kurang dari dua tahun. Para partisipan ditunjukkan foto orang yang mereka cintai, dan foto-foto orang yang mirip.

Otak para partisipan bereaksi begitu melihat foto kekasih mereka, menghasilkan respon emosional pada bagian otak yang sama yang biasanya merespon motivasi dan pujian.

"Cinta mendalam yang penuh hasrat menggunakan sistem yang sama pada otak dengan yang biasanya aktif saat seseorang kecanduan obat-obatan," kata Arthur Aron, psikolog dari State University of New York, yang mengetuai penelitian. Dengan kata lain, mereka kecanduan orang yang mereka cintai seperti halnya obat-obatan.

Para ahli mengatakan bahwa romantisme cinta merupakan perasaan paling kuat yang bisa dirasakan seseorang. Otak manusia telah terhubung sedemikian rupa sehingga bisa memilih pasangan, dan manusia menjadi termotivasi untuk mendapatkan pasangan yang diinginkannya, beberapa malah ada yang bertindak ekstrim untuk mencari perhatian dan kasih sayang.

"Kita merasa bahagia saat jatuh cinta, sekaligus merasa cemas," kata Lucy Brown, rekan Arthur, seorang ahli saraf dari Albert Einstein College of Medicine, New York.

Lucy menjelaskan bahwa bagian pujian pada otak, juga disebut pusat kesenangan, adalah bagian penting untuk bertahan hidup. "Bagian tersebut membantu kita mengenali kebahagiaan." 

Lalu apakah rasa cinta bisa pudar? 

Tidak selalu. Arthur menjelaskan hasil penelitian lain yang melibatkan hasil pemindaian MRI pada sepuluh wanita dan tujuh pria yang sudah menikah selama rata-rata 21 tahun, dan mengaku masih merasakan cinta yang mendalam terhadap pasangannya.

Ilmuwan menemukan bahwa bagian otak pada masing-masing orang yang sudah lama menjalin hubungan juga bereaksi saat melihat foto pasangan mereka. Cinta yang bertahan lama memicu aktivitas pada bagian otak yang berhubungan dengan ikatan dan menyukai pujian.

"Bagi kebanyakan orang, pola standarnya adalah rasa cinta penuh hasrat menurun secara gradual, akan tetapi rasa keterikatan malah tumbuh," kata Aron.

Ikatan tersebut memungkinkan pasangan untuk hidup bersama dalam waktu lama dan membesarkan anak. "Kebanyakan mamalia tidak membesarkan anak bersama-sama, akan tetapi manusia melakukannya."

Perlu diperhatikan, penelitian otak menunjukkan bahwa cinta berubah dari masa ke masa. "Selama cinta masih bertahan, kita terbiasa dengan sebuah hubungan, dan kita tidak takut pasangan kita akan meninggalkan kita," kata Arthur.

(Ni Ketut Susrini)


Jadi? Dari mana cinta itu..? otak apa hati?

Repost from : http://magneticinfo.blogspot.com/2012/05/fakta-ternyata-cinta-berasal-dari.html