HYDEN : (Undone Project)

This writing actually is our novel project. With my friends : the king (nugra) and suhu (sarah), we try to make a novel, but it's undone (yet) because several things~ So.. before it will be released (hahaha aamiin) I think, it is ok to post a pieces of part (It's my part actually) and hoping we can continue the story!


Message to Nowhere

 
Those words fly over the signal of wind. 
again and again, 
sending every tell-tale to be seen. 
just to pull its out. 
silently but loud. 

Air yang Mengalir


Jika hidup adalah air yang mengalir, maka bagaimana kisahnya jika air itu terambas diantara jurang yang curam?
Jika hidup adalah air yang mengalir, maka kemanakah hidup jika air itu menguap?
Dan jika hidup adalah air yang mengalir, maka kau biarkan dimanakah tempat hidup bermuara?
Lautan? Rawa? Atau Kubangan?
Air, memang mengalir.


Tapi bukan berarti dia tak menginginkan jalannya sendiri.

Bandung, 2011.

Regret

 
I remember that day.

It was my birthday and the day turned to grey. Somehow, the air felt humid with the falling rain felt as cold as ice. I remember that day. I was just standing near a row of funerals. Some people saw me with their gloomy eyes, hugged me tight and told me not to regret about the unfair life that owned me. They told me over and over again about not to regret for I was the only survivor  in the time when everything was red : conflagration.

Benang Layang-Layang

pict from:https://obsessioncompulsion.files.wordpress.com

Keningnya berkeringat lebat, dia dengan tergesa-gesa menarik benang yang tersambung dengan layangan yang sedang terombang-ambing, layangannya terlilit benang layangan lainnya. "Ah! Terlalu cepat!" gumamnya panik, dia kembali mengulur benang ditangannya membuat layangannya sedikit menjauh dan terlepas dengan layangan lawannya. "Ah! tu-tunggu!" Laki-laki muda itu setengah berlari menyeimbangkan posisi benang layangannya. Layangan biru gelap yang menjadi lawannya sepertinya berniat meninggalkan medan perang, mungkin pemilik layangan biru itu kesal, karena perang adu layangannya tak urung selesai. Pasalnya matahari sudah mulai menghilang.  "Dapat!" sekali lagi, benang layangannya melilit layangan biru gelap, kembali mengangkat bendera perang. Dia mengulur benangnya, memancing sang lawan agar menyerang terlebih dahulu, dan gagal. Layangan biru gelap itu dengan lincah meliuk-liuk melepaskan diri, menghindari perang. Si Laki-laki muda sedikit frustasi, tantangannya tidak ditanggapi, akhirnya dia menarik tajam benang layang-layang yang disebut-sebutnya sebagai gelasan itu. Sekali lagi, layangan biru lawannya terperangkap. 

Hari menjelang gelap, dan angin senja mulai menjadi angin malam yang dingin. Tapi laki-laki muda itu masih berkeringat lebat, terlalu asyik dengan permainannya. "berhentilah..berhentilah.." bisikku sia-sia. Dia malah semakin asyik menarik-ulur benang layangannya. Sesekali benang layangannya dia ulur ragu-ragu, memancing reaksi lawannya. Sesekali dia tarik benangnya perlahan, menjebak lawannya.Tiap strategi adu layangan dia terapkan dengan cermat dan detail. Tapi sepertinya lawannya tidak se-ahli laki-laki muda itu. Permainannya terlalu spontan, acak dan lebih tidak terbaca. Benang layangan birunya mengulur-menarik-mengulur-melilit-menarik-mengulur lagi semaunya.

Setelah matahari benar-benar terbenam, layangan biru itu seperti sudah kehabisan akal, dengan sekali tarikan, benang layangannya menegang kencang dan "pats!!" benang layangan laki-laki muda itu mendadak putus. Tapi tak lama, Layangan biru itu pun  tak nampak. Dulu kakakku sering menyebutnya teknik putus ganda. Memutuskan benang layangan lawan, tapi imbasnya, setelah itu benang layangan akan putus dengan sendirinya, karena sudah terlalu tipis akibat gaya gesek yang kuat dan tekanan angin yang kencang.

"Waktu habis" kataku menghela nafas, kulihat matahari sudah benar-benar hilang dihisap proses rotasi.

"Arrrrggghh" si laki-laki muda merutuk kesal dengan akhir perang yang nihil tanpa pemenang. 

"benang layang-layang ini terlalu tipis" Aku menggulung benang layang-layangku dan kembali menghela nafas panjang.
Layangan biru-ku terbang dan tersamar oleh gelapnya warna malam.

Aku dan Indonesia


Angka tujuh belas dan kau enam puluh delapan tahun.
Banyak maya membicarakanmu, berucap selamat untukmu, bercerita tentang sejarah.
Tapi, aku diam dalam penyakin menahun.
Aku yakin, kudengar kau merajuk lalu menuntutku sambil memegang kerah.